Rabu, 04 Juni 2008

Selamat Ulang tahun Hegel

19 Mei 2008 adalah tanggal dimana hegel bertambah umurnya. Karena kami baru mengalami musibah atas meninggalnya adeknya hegel kami berpikir untuk tidak merayakan ulang tahun hegel. Tapi hegel masihlah kecil dia belum tahu artinya meninggal malah dia bilang kalau ade kecilnya sedang bobo di kronjo- tanggerang sebuah desa tempat mertua saya tinggal.


Saya memang sudah merencanakan beberapa bulan belakangan ini mengenai ulang tahun hegel yang bertepatan dengan ulang tahun papanya. Saya ingin membuatnya spesial dan semuanya sudah diperhitungkan.


Tapi ternyata Allah punya rencana. Keuangan kami, kami prioritasnya untuk kebutuhan adeknya hegel. Seperti biaya persalinan, tahlilan dan lain-lain. Dan saya harus tega untuk tidak merayakan ulang tahun ke dua hegel.


Kenapa harus kata tega dan tidak tega ini nih ceritanya.


Pertama, Danang keponakan saya bulan februari kemaren merayakan ulang tahunnya. Banyak teman-teman yang datang dan ada acara tiup lilinya. Kedua, Danang dan acha keponakan kami itu sudah sekolah dan mereka bilang kalau hegel belum boleh sekolah karena belum ulang tahun. Terus, sebelum musibah menimpa kami, kami sering belajar menyanyikan lagu ulang tahun bersama hegel khususnya lagu tiup lilin.


Karena hal tersebutlah maka suami memutuskan untuk merayakan ulang tahun Hegel. Awalnya suami masih dengan niat awal untuk merayakan ulang tahun hegel di Mcd. Tapi setelah di hitung-hitung dengan teman hegel yang banyak dan kebutuhan rumah tangga yang panjang saya putuskan untuk merayakan di rumah saja.


Dan akhirnya acara itu berlangsung juga. Banyak teman-teman hegel yang datang walaupun teman-temannya besar-besar semua. Banyak kado yang diterima hegel dan akhirnya ada tiup lilinnya. Hegel senang sekali itu terliat ketika dia antusias sekali ketika menerima kado.


Sekali lagi selamat ulang tahun sayang semoga kamu menjadi anak yang terbaik buat kami, lingkunganmu dan pastinya buat agama dan tuhanmu

Senin, 26 Mei 2008

Ikhlas dan mengikhaskan

Gini nih nasib orang yang kalau mau menggunakan internet pas jam kerja secara memanfaatkan fasilitas kantor sih bisanya. Habisnya kalau ke warnet pastinya ribet deh bawa-bawa hegel dan perabotannya. hehehehe. Dan lagi saya harus cuti selama sebulan untuk memulihkan fisik dan mental saya. Saya mau cerita soal peristiwa hidup saya yang baru saya alami dan saya syok menghadapinya. Ini soal kandungan saya. Ini soal janin saya. ini soal bayi saya. Ini soal tanggal 24 April.

Ceritanya pada tanggal 23 April, saya tidak melihat ada ganjil dalam tanggal itu, karena saya menjalaninya seperti biasa. Bangun pagi, main sama hegel, berangkat ke kantor, kerja dan pulang ke kantor. Di kantor saya sempat ngobrol dengan teman sekantor soal tendangan anak saya di dalam perut saya dan betapa senangnya saya bahwa hari ini saya akan di USG. Jadi saya sudah tidak penasaran lagi soal keadaan janin saya. Terus terang saya sempat was-was karena saya takut ada apa-apa dengan janin saya secara dalam proses kehamilan ini saya masih minum pil kb.

Saya pulang ke rumah dulu dan menunggu suami untuk berangkat ke dokter barengan tapi karena suami pulang malam jadi saya putuskan untuk kontrolnya hari senin saja. Tapi setelah saya menidurkan hegel ada sesuatu dalam diri saya. Saya mengeluarkan banyak sekali darah segar. Deg... ada apa ini.

Terus terang seperti yang saya tulis di blog 2 bulan lalu bagaimana saya awalnya belum bisa menerima ketika saya harus hamil lagi dikarenakan beberapa faktor. Mengenai hegel yang menurut saya masih kecil. Mengenai kekuatan perekonomian yang menurut saya masih belum mapan secara kita baru terbebas lilitan hutang dari kartu-kartu kredit. Mengenai ketidaksiapan saya untuk membagi kasih sayang antara untuk hegel, bayi kami, suami dan untuk diri sendiri.

Namun setelah instropeksi diri dan menyiapkan mental saya yakin bahwa saya bisa menjalankan ini dan ini adalah rejeki yang diberikan Allah untuk kami seperti Allah memberikan Hegel kepada kami.

Saya teringat waktu saya sedang mengandung hegel, disaat masalah bertubi-tubi datang ke kami dan bayangan saya bahwa anak saya akan menjadi anak yang tertekan dengan kondisi kami. Tapi apa yang terjadi. Hegel adalah berkah bagi. Hegel adalah rejeki bagi kami. Hegellah yang mengantarkan kami untuk menjadi orang tua yang tenang, kuat dan selalu bersama-sama. Dan menurut kami Hegellah yang menuntun kami menemukan jalan untuk menyelesaikan masalah-masalah kami dan akhirnya masalah kami satu bersatu terselesaikan. Walaupun kami tahu masalah kami akan muncul lagi di masa depan dengan bentuk yang berbeda. Tapi setidak-tidaknya kami punya pengalaman bagaimana menghadapinya nanti. hehehhe...

Nah lanjut soal kandungan saya ini, dimana saat saya sudah menerima dengan ikhlas dan saya siapkan mental saya untuk menyambut kehadiran buah hati kami. Seperti saya biasakan kepada hegel untuk memanggil dirinya bukan ade lagi tapi abang. Walaupun dia masih tetep menyebut dirinya sendiri sebagai ade tapi tetap saya biasakan. Lalu saya katakan juga bahwa akan ada ade kecil dan dia sangat sayang dengan adenya. Hegel selalu menyiumi perut saya di saat saya tidur, berangkat kerja ataupun pulang kerja dan itu berlaku juga untuk keponakan yang lain-danang dan acha.

Namun disaat saya sudah ikhlas dan menerima kehadiran buah hati kami lalu apa yang terjadi kandungan saya baru 6 bulan tapi saya harus melahirkan yang prosesnya sama dengan waktu melahirkan hegel. Saya mengalami namanya mules, kontraksi yang mungkin ini disebutnya pembukaan, pecahnya ketuban dan akhirnya keluarnya bayi saya.

Inilah kesedihan saya bayi saya tidak menangis seperti hegel ketika lahir dulu. Saya tidak mendengarnya dan semua orang tidak ada yang mendengar. Ya.... anak saya telah meninggal di dalam perut saya. Yah Muhammad Aditya Drajat dengan berat 8 ons telah meninggalkan kami pada tanggal 24 April 2008 di RS. Tria Dipa. Allah lebih sayang kepadanya. Walaupun berat karena saya sudah menerima janin saya ini dengan ikhlas tapi saya harus mengikhlaskannya karena saya yakin Allahlah yang berhak merawat anak laki-laki kami.

Rabu, 09 April 2008

Hilang sudah jeratan kartu-kartu itu

Cerita ini bermula ketika saya ditawari kartu kredit di mall. Dan berhubung kata teman saya membuat kartu kredit itu susahnya minta ampyun makanya saya iseng-iseng aja ikut mengisi persyaratannya dan tidak lama kemudian datanglah kartu kredit itu. Hihihi saya sih senang-senang aja mendapatkannya. Bisa untuk belanja nih. Secara waktu itu saya masih sendiri. Dan menurut saya ini adalah kemudahan yang diberikan si kartu ajaib itu kal0-kalo saya butuh uang. Jadi ga perlu pinjem-pinjem ke orang lain.


Tahun 2004 tepatnya saya memiliki satu kartu kredit dan setelah itu saya juga meng-aply kartu lain karena tergiur dengan cicilan 0%nya. Saya gunakan kartu itu dengan tidak memperhitungkan apa yang akan terjadi nanti ke depannya. Saya buat belanja, makan, ambil uang tunai dengan seenaknya. Lalu saya ditawari kartu tambahan dari kartu kredit pertama saya. Tadinya saya males untuk meng-aply kembali tapi karena teman kantor saya membutuhkan kartu itu dan dia sanggup untuk membayarnya dan lagi dia adalah teman yang baik dan terpercaya jadilah saya berikan kartu itu untuknya dengan perjanjian pembayarannya harus benar dan tepat.


Awalnya semuanya berjalan dengan baik. Saya juga rajin dan taat untuk membayar pemakain dua kartu kredit saya kalau tidak sanggup membayar semuanya, saya bayar setengahnya atau cicilan minimumnya saja. Begitu juga dengan teman kantor saya. semuanya berjalan dengan lancar.


Tapi ternyata hidup itu penuh teka teki dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti di depan kita. Setelah semuanya berjalan dengan baik dan saya menikah, kehidupan saya mulai goyah. Khususnya perekonomian. Belum lagi ada pinjaman tanpa agunan dari kartu kredit kakak yang juga harus di bayar. Dan yang parahnya dan membuat saya syok berat adalah kantor dimana saya bekerja dinyatakan bangkrut. Nasib yang sama juga menimpa teman kantor yang saya berikan kartu kredit. Saya dan teman di kantor tidak diberikan pesangon hanya tabungan yaitu potongan gaji yang di potong setiap bulannya tapi itupun di bayar dicicil. Dan pada saat itu pekerjaan suami belum mapan dan saat itu saya juga sedang mengandung. Wow hidup yang penuh warna tentunya.



Selama tidak ada kepastian perekonomian itulah walaupun saya masih menumpang sama orang tua tapi saya termasuk orang yang tidak mau meyusahkan orang tua. Saya berusaha tegar di mata mereka walaupun kadang saya tidak kuat juga ketika ada telepon dari para deb collector yang menelpon untuk menayakan pembayaran. Dan gilanya adalah bukan satu bank ini tiga bank dan satu tagihan yang mengatasnamakan kakak saya jadi semuanya ada empat bank yang selalu menelpon saya ke rumah. Dan yang lebih parahnya lagi karena dalam membuka aplikasi yang dicantumkan itu adalah nama ibu kandung jadilah mama saya yang juga di teror oleh mereka. Ini membuat saya menjadi stress sendiri. Padahal saat itu saya sedang mengandung loch.

Saya hanya bisa berdoa, berusaha dan pasrah. Ternyata doa kami dikabulin. Saya di telepon oleh salah satu bos saya di kantor dulu Ricky Pesik namanya untuk diajak bekerja. Ini adalah berkah yang luar biasa dan saya menyebutnya mukjijat. Saya bisa membantu suami dalam menanggung biaya hidup dan pembayaran hutang.

Setelah saya bekerja kembali saya utamakan penghasilan saya dan suami untuk membayar hutang kartu-kartu brengsek itu. Karena punya hutang yang ada hubungannya dengan kartu kredit itu adalah neraka. Kita seperti orang yang tidak punya harga diri, terpenjara dan hidup tidak nyaman. Kenapa saya mengatakan begitu. Ini alasannya.

Satu, setiap hari selalu di telpon walaupaun kita sudah minta waktu untuk melunasi. Tapi mereka tetap menagih dan menagih

Kedua, tidak cukup lewat telpon mereka akan mendatangi kantor dan rumah kita. Dan berbicara kepada semua orang di rumah untuk membayar tagihan tersebut.

Ketiga, pihak bank yang waktu pertama mengenalkan kartu kepada kita adalah orang-orang yang sangat cantik/ganteng, ramah, wangi ketika kita ada masalah yang datang adalah orang-orang yang berwajah seram, tegap dan tidak ramah dan itu adalah intimidasi buat kita.

Keempat, pinjaman kita akan berbunga, berbunga dan berbunga ketika kita tidak dapat melunasi artinya apa sama saja dengan lintah darat/rentenir tapi ini lebih rapi dan punya kantor yang bagus. Dan lebih parahnya lagi mereka bisa dengan bebas marah-marah dan menekan kita walaupun kita belum pernah kenal.

Akhirnya selama dua tahun saya bekerja dan suami dapat pekerjaan yang lebih bagus walaupun belum tetap karena penghasilannya baru ada ketika selesai proyek yang dikerjakan. Tapi saya bersyukur karena saya dan suami bisa menyelesaikan jeratan kartu-kartu brengsek itu. Dan kalau di pikir-pikir kalau uang itu saya tabung saya bisa membeli motor atau beli mobil sedan 2nd tinggal di tambahin aja dikit atau bisa untuk DP rumah. huehuehuehue....



Ada hikmah dibalik ini semua. Pertama kali kita mendapatkan cobaan ini pastilah kita merasa tidak sanggup menghadapinya. Semuanya seperti buntu. Seakan-akan tidak ada pintu untuk membuka agar ada jalan untuk menyelesaikan masalah ini. Dan yang fatalnya keinginan untuk bunuh diri saja.


Tapi ternyata ketika kita mau berusaha dengan keras dan berdoa dengan sungguh-sungguh dan kita harus sabar dan percaya bahwa Allah akan memberikan jalan terbaiknya.


Terimakasih yach Allah telah memberikan jalan yang terbaik buat saya, suami dan anak dalam menghadapi masalah kami yang lalu. Masalah yang kami anggap terlalu berat itu akhirnya dapat kami selesaikan. Walaupun kami harus hidup berhemat tapi kami tidak nelongso banget dalam mengarungi hidup baru kami.


Terimakasih yach Allah, telah mengembalikan kami menjadi manusia yang merdeka tanpa harus terjerat dan terintimidasi oleh orang-orang yang tidak kami kenal.

Terimakasih yah Allah, Kau tetap sayang kepada kami sehingga kami, saya, suami dan anak bisa menjalankan ini dengan baik dan malah mempererat tali kasih, cinta dan kebersamaan kami semakin erat.

Maafkan saya, suamiku yang sempat emosial menghadapi cobaan ini tapi dengan kelembutan dan kesabaran yang kau berikan membuat saya yakin bahwa kamu adalah teman, abang, suami dan papa yang is the best.

Kami tahu bahwa masalah akan datang di masa depan entah apa itu masalahnya tapi kami mohon kepadaMu ya Allah untuk terus jaga kami, sayangi kami seperti kami selalu sayang dan menjaga namaMu di hati dan langkah kami.





Minggu, 06 April 2008

Satu orang, banyak nama

Hari sabtu kemaren, tepatnya tanggal 5 April 2008 kami diundang oleh salah satu kawan suami untuk menghadiri pesta perkawinannya di TMII. Undangan yang datang lumayan berbobot. Mungkin karena yang penganten adalah dosen, penulis dan aktivis juga. Dan saya harus datang bersama hegel saja dikarenakan suami sedang ada tugas ke solo.

Tapi bukan itu yang mau saya ceritakan. Bermula dari souvenir cantik yang diberikan untuk para undangan. Yaitu buku-buku yang pernah di tulis oleh sang penganten laki-laki. Buku ini saya baca-baca ketika menemani hegel si buah hati bermain di arena istana anak-anak yang ada di wilayah TMII. Betapa kagetnya saya ketika ada ucapan terima kasih penulis, ada nama suami tercinta saya. Tapi bukan Syarifudin yang di tulis tapi Udin Oboy. Hihihihihi.....

Suami saya ini namanya cuma Syarifudin tapi karena masih wong deso jadi di tambah lah namanya di KTP atau di rekening banknya menjadi Syarifudin bin Salwani. Selama saya mengenalnya selama 10 tahun ini ada yang lucu dengan panggilannya.

Dulu waktu saya kenalan sama dia, dia selalu menyebut namanya Syarifudin bukan Syarif atau Udin. Tapi karena temen-temen di kampusnya memanggilnya dengan sebutan Udin maka saya panggil dia aja dengan nama udin.

lucunya ketika saya pada saat itu belum pacaran sama suami aku ini lagi berbagi cerita dengan salah teman udin di kampus. Dia lagi ingin menjodohkan saya dengan Udin ceritanya nih. Dia menyebut udin ini dengan nama syarif. Aku pikir dia lagi ngomongin temen kita yang namanya syarif. Jadilah selama ngobrol ngobril itu kita pada ga nyambung. Dan karena penasaran siapa sih syarif dan ternyata yang di maksudnya itu Syarif yah Udin. Yach ampun....

Nama kedua adalah waktu kita sudah jadian. Ceritanya waktu kita sama-sama pulang dari demo di DPR. Di jalan tiba-tiba ada yang manggil ....Sari... karena nama saya yang di panggil refleks saja mencari arah suara dan menjawab ..Apa... eh tau ga seh ternyata bukan saya yang dimaksud, dia memanggil Udinku.. hahahha.... Dia itu temen udin waktu sekolah di Tanggerang.

Nama ketiga ketika saya diajak ke rumahnya. Ternyata di rumahnya ini Udinku itu di panggil dengan nama Syarif atau Arief. Jadilah kalau saya ke rumahnya memanggil nama Udinku dengan nama syarif ke orangtuanya dan memanggil arief ke adek-adeknya. Tapi kebalikan kalau keluarga udinku ke rumah saya mereka memanggilnya dengan nama Syarif atau Udin.

Lucunya nama Udin juga ada di keluarga Udinku ini, yaitu mamangnya. Ceritanya ada salah satu senior yang mau bicara dengan Udinku ini.Terus saya kasih saja no telpon rumahnya. Trus dia telpon saya lagi dan mengatakan bahwa Udinnya lagi tidak ada mungkin di rumah isterinya. Gubrak. Terus aku jelasin aja bahwa aku lupa kalau di rumahnya Udinku itu memakai nama alimnya Syarif. hehehehe

Nama keempat, ketika bergaul dengan temen-temen di gerakan yang notabene banyak dari berbagai kampus baik di jakarta atau di luar jakarta. karena nama udin itu banyak banget makanya mereka memanggil dengan nama Oboy atau Udin Oboy.

Nama Kelima, ketika saya ciptakan panggilan sayang untuk Udinku ini. Pada waktu dulu aku tuh paling males dengan panggilan sok mesra. Sayang, yayang, cintaku atau apalah karena saya pikir itu hiperbola. Walaupun Udinku selalu memanggil saya dari pacaran sampe sekarang dengan sebutan yayang. Yah saya terima saja karena itu kan haknya dia mengekspresikan rasa cintanya ke saya. hehehhe.... Tapi untuk saya engga dech. Tapi saya punya panggilan sayang untuk Udinku yaitu ayam atau yayam. Sampai sekarang loch kalau ga di depan anak aku manggil dia dengan sebutan yayam.

Tapi ternyata panggilan ini jadi panggilan temen-temen ketika mereka mencari tau ke saya dimana udinku berada. Bukan yayam tapi ayamnya. Hehehhehe....

Dan mungkin ada lagi nama-nama yang mereka ciptakan untuk Udinku yach aku ga tau asal jangan perempuan aja yang memanggil nama Udinku dengan panggilan special bisa panjang nih ceritanya. ini serius loch.

Jadi nama suami saya itu, Syarifudin atau syarif atau arief atau sari atau udin atau oboy atau udin oboy. Terus kalau nama istri itu biasanya kan di belakangnya ada nama suami trus nama saya jadinya apa dong. Sari Syarifudin kayaknya ga enak deh, Sari udin yaelah ga enak juga, Sari Oboy apalagi ini sok gaul banget. Hehehehehe.... binun ach

Senin, 03 Maret 2008

Maafkan saya yah selama empat bulan ini

Hari jumat tepatnya tanggal 22 ada yang aneh di badan saya khususnya ada yang bergerak-gerak di perut saya. Dan menurut saran teman saya lebih baik saya beli test pack saja. Karena saya kan perempuan yang bersuami dan lagi aktivitas suami isteri terus jalan jadi harus hati-hati jangan-jangan saya hamil (bahasa ini saya perhalus karena kalau denger bahasa langsung teman saya wow dah...hehehhehe).

Karena kesibukan saya mengurus persiapan pesta ulang tahun keponakan saya maka saya lupa untuk tes. Baru hari minggunya saya tes dan hasilnya Positif. wow......

Saya sangat surprise yang pastinya kaget banget. Tapi saya belum berani untuk ke dokter karena suami saya sedang dinas ke luar kota baru hari kamisnya datang ke Jakarta. Dan saya termasuk orang yang takut untuk ke dokter sendirian apalagi ini soal kehamilan.

Terus terang ini semua di luar rencana saya. Saya masih menginginkan mencurahkan kasih sayang dan materi saya untuk Hegel saja. Secara hegel masih sangat kecil dan dulu saya malah hanya menginginkan memiliki hegel seorang saja. Sehingga saya bisa fokus untuk membangun masa depannya. Tapi Allah mempunyai rencana lain. Dan saya tidak mungkin menolaknya. Karena rencana Allah adalah takdir yang harus saya terima dengan senang hati.

Hari kamis itu akhirnya saya ke dokter kandungan untuk memastikan saja. Karena kok sepertinya sudah ada detak di perut saya. Dan setelah dokter memeriksa. Kamu sudah empat bulan. Wow empat bulan. Selama empat bulan ini saya selalu meminum pil KB, minum obat warung untuk mengobati batuk saya, makan durian teman di kantor. Walaupun dokter bilang saya tidak apa-apa tapi saya sedih, syok banget. Selama empat bulan ini saya tidak bisa mengetahui dan masa bodo terhadap janin yang ada di diri saya. Maafkan saya.

Dan akhirnya selama hari jumat kemaren saya menjadi orang yang merasa bersalah. Saya melakukan kesalahan kedua. Saya menyia-yiakan kembali. Saya jadi serba salah ketika melihat hegel dan janin di perut saya. Hegel masih minum asi saya dan ketika saya coba untuk menyapihnya ada perasaan sakit dan terluka di hati saya. Ketika hegel menagis karena dia merasa pahitnya asi-nya saya juga menangis. Sedangkan janin saya harus terus saya berikan nutrisi dan makanan yang bergizi karena selama empat bulan ini saya merasakan tidak memberikan apa-apa. Ya ini adalah kehamilan yang tidak kami rencanakan tapi sekali lagi saya harus bangkit untuk membuat janin saya merasa nyaman dan aman.

Saat ini saya sendiri sudah bisa menerima kehamilan ini dengan senang hati. Kalau suami saya sih senang-senang saja dari awal. Saya ingin menjaganya dan merawatnya. Kan lucu juga tuh beda dengan hegel 2 tahun 3 bulan nanti. Kalau kata mama saya biar capeknya sekalian. Doakan yach semoga bayi saya nanti sehat dan tidak kekurangan apapun. Amien. Yang pasti inilah pelajaran hidup yang harus saya jalankan. Belajar bersikap adil. Adil kepada diri saya sendiri, suami, hegel dan janin di perut saya. Adil dalam segala hal.

Ya Allah berikan kekuatanMu kepada saya dalam menjalani kehamilan ini. Berikan kesehatan dan keselamatanMU kepada saya dan janin saya ini. Berikan kami mukjijat dan keajaibanMu seperti Kau berikan itu kepada anak pertama kami Hegel.

Ya Allah berikan kami rezekiMu, kabulkan segala usaha kerja keras kami berdua agar mendapatkan hasil yang Kau ridhoi. Amien


Minggu, 02 Maret 2008

Antara YTHA dan Addiction

Hari sabtu kemaren saya, suami dan anak di undang oleh salah satu kawan menghadiri ulang tahun anaknya. Yah perayaan yang biasa saja. Walaupun kami datang telat tapi hegel senang karena dia mendapat bingkisan dan balon.

Bukan soal perayaannya yang buat saya menulis di blog ini tapi ucapan seorang kawan lama yang membuat saya kepikiran terus.

Sar, gimana kabarnya. Yap Thiam Hien gimana loe masih disana kan. deg..... ketinggalan zaman banget nih kawan, pikir saya. Maklum juga kita dah lama banget tidak bertemu. Yah gw dah ga terlibat lagi semenjak ibu Sumarsih yang menang. Yah ampun ri... gw lupa kayaknya elo masih masih bermasalah deh sama ibu Sumarsih yach. Wadau kok gw sih yang bermasalah gw kan hanya yang menjalankan kerjaan di lapangan. Serasa Yap Thiam Hien itu milik gw. Emang sih dari tahun 2000 sampai 2004 saya selalu menangani perhelatan penganugerahan untuk orang/lembaga yang berjuang menegakkan HAM. Dan gw selalu woro-woro kepada temen-temen di gerakan dulu untuk selalu datang.

Ri... masalah itu sudah selesai atau belum. Dulu gw pernah ketemu sama ibu Sumarsih di LBH tapi kayaknya dia dah paham juga sih kondisinya. Terus terang saya dulu dekat dengan Ibu Sumarsih ini karena selain dia adalah ibunya Alm. Wawan yang anaknya tewas pada peristiwa semanggi bersama teman satu kampus saya Alm Sigit dan lagi saya harus selalu dekat untuk keperluan di acara malam penganugerahan itu. Makanya segala kebutuhan untuk award itu saya selalu koordinasi dengan beliau.

Masalahnya adalah nominal yang harus diberikan panitia kepada beliau sebagai peraih. memang sih beberapa bulan setelah acara berlangsung beliau pernah menanyakan soal kekurangannya tapi karena bos saya dulu hanya sekali menjelaskan dan itupun pas acara berlangsung maka beliau selalu menanyakan kepada saya dan saya hanya bisa memberi penjelasan sebisa saya. Seingat saya beliau sempat tiga kali bicara dengan saya dan saya hanya meneruskan janji dari bos saya dan sampai saat ini saya juga tidak tahu apakah masalah itu sudah selesai atau belum. Karena setelah itu saya keluar dari perusahaan itu alias bangkrut.

Setelah saya beri penjelasan kepada kawan lama itu dia mengerti dan mengakui bahwa kepedulian orang atau korporat kepada penegakkan HAM memang semakin menurun. Mereka biasanya membuat CSR sendiri dan itu biasanya bidangnya lebih ke sosial.

Setelah ngobrol-ngobrol sama kawan lama itu saya, suami dan hegel harus pulang karena di telpon untuk main ke tempat senior kami di ciputat. Ini kali pertama saya main ke tempat abang ini. Wow rumahnya besar sekali. ada kebon dimana disana ada 12 rusa yang mau tidur keliatan sekali lah wong kami sampai di rumah abang ini sudah malam. sekitar jam 7-an. Belum lagi ada kolam ikan yang besar dimana didalamnya terdapat ikan mas yang besar- besar. Hegel senang banget tapi lucunya dia bilang rusa itu adalah kambing. hehehhe ketaunan kan hegel belum pernah ke ragunan. Ada anjing besar berwarna hitam yang galak banget belum lagi tuh anjing pakai ambil sandal papanya. jadilah dia selalu ingat dengan peristiwa itu.

Tapi bukan itu yang mau saya ceritakan tapi omongan abang ini mengenai keberadaan majalah saya, Majalah Addiction. Saya memang selalu mengirimkan majalah ini kepada abang ini setiap bulannya.

Oh iya ri, majalah elo kenapa ga terbit lagi. Padahal sayang loh majalah elo itu bagus banget.
Iya nih bang, biasa lah kita ada kendala financial. Makanya Medco support dong pasang iklan kek hehehehe...

Hanya itu yang bisa saya jawab mungkin bukan senior saya ini yang bilang begitu sudah banyak banget orang-orang yang menelpon, ym-an, email atau yang datang langsung juga ada karena pada tidak percaya kalau majalahnya tidak terbit lagi. Jangankan mereka saya saja sangat kehilangan. Karena terus terang dalam aktivitas ini baik di YTHA maupun di Addiction saya menemukan pelajaran dan pencerahan.

Dua kejadian itu pas banget dan berhubungan banget dengan saya. Tapi tenang kawan-kawan kami akan datang kembali walaupun waktunya belum ada yang tahu. kalau saya sih masih menunggu info dari bos-bos saya. Pak Ricky dan Pakde. Mudah-mudahan YTHA dan Addiction bisa eksis kembali Iya kan bos.... hehehehehhe.....

Minggu, 03 Februari 2008

29 tahun sudah....

harusnya kemaren saya posting tulisan ini tapi entah kenapa saya tidak mempostingnya. Mungkin sudah serasa tua kali yah... hehehehehe....

4 Februari 2008 adalah hari yang sama saja dengan hari-hari biasanya cuma bedanya hari ini banyak ucapan selamat antara lain dari suami, orangtua, kakak, adik, anak, keponakan dan teman-teman. yah hari ini adalah hari penambahan umur saya.

29 tahun tepatnya. Angka yang menarik menurut saya. Karena 29 adalah angka terakhir dari kepala 2 dan awal angka menuju kepala 3. Biasanya orang yang masih kepala 2 masih merasa seperti anak muda tapi kalau sudah kepala 3 itu adalah angka kewaspadaan. Karena segala tingkah laku dan gerak-gerik kita di nilai. Dan orang-orang akan bilang iii udah kepala 3 kelakuan masih kaya gitu aja. hahhahahah... ngarang yah saya.....

Tapi ada yang menarik dalam hidup saya di usia saya saat ini

29 tahun sudah saya melihat dunia ini dengan segala pernak perniknya
29 tahun sudah saya merasakan dan akhirnya mengetahui arti dari senang-sedih, tertawa-menangis, suka-duka, kenyang-lapar
29 tahun ini saya bahagia sudah memiliki suami, anak dan keluarga besar yang saling membantu dan peduli.
29 tahun ini saya ingin...................,...............,...............,..................,.................,........................,..................,..................,................,........

Ya Allah terima kasih Engkau telah memberi saya kesehatan, keselamatan dan kebahagiaan. Walaupun di usia saya ini Engkau selalu memberi saya cobaan tapi saya yakin Engkau lakukan itu karena Engkau sayang kepada saya. Karena dengan cobaan yang Engkau berikan saya menjadi orang yang sangat mengerti apa arti kesengsaraan, kepahitan, ketakutan, kegelapan, kesendirian, dan saya yakin hal itu semua adalah proses menuju kebahagiaan, kesenangan, kemandirian.

Ya Allah walaupun Engkau mengetahui bahwa saya adalah ciptaanMu yang tidak sempurna tapi Engkau masih sayang kepada saya. Engkau terus menuntun saya dan memberikan jalan ketika saya tidak tahu harus melakukan apa. Saya sangat mengerti proses dan saya ingin menjalankan proses ini dengan selalu menyebut namaMU.

Terima kasih ya Allah.......